Sabtu, 19 September 2015

Batik Tulis " Tegal Laka Laka” Kelurahan Bandung

Batik dikenal di Tegal pada akhir abad ke-XIX dan yang dipakai saat itu adalah pewarna buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan, seperti:
1. pace/mengkudu,
2. nila
3. soga
4. kayu
5. dan kainnya tenunan sendiri. 
Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik dan kemudian meningkat menjadi warna merah-biru



Batik tulis Tegal atau tegalan itu dapat dikenali dari corak gambar atau motif rengrengan besar atau melebar. Motif ini tak dimiliki daerah lain sehingga tampak eksklusif.

Isen-isen atau isinya agak kasar, yang diilhami oleh flora dan fauna lingkungan. Ini dipadukan dengan warna spesifik yang lembut atau kontras,sebagaimana motif batik gaya pesisiran. Ini memunculkan kesan tegas dan lugas.

Budaya berpakaian batik di Tegal dibawa Raja Amangkurat I (Sunan Amangkurat Mas) dari Keraton Kasunanan Surakarta. Amangkurat yang saat itu menyusuri pantai utara membawa pengikutnya yang di antaranya merupakan pengrajin batik. Pengrajin ini akhirnya menurunkan ilmunya pada anak cucunya dan meluas ke masyarakat. 

Aktivitas usaha batik tulis tegalan di Kabupaten dan Kota Tegal mengelompok dalam sentra industri kecil-menengah di Kelurahan Kalinyamat Wetan, Bandung, Tunon, dan Keturen, sedangkan di Kabupaten Tegal terdapat di Desa Bengle, Setu, Pasangan dan sekitarnya.

Para pengrajin batik di Tegal telah menggeluti batik secara turun-temurun. Adapun, corak batik yang hingga kini dikembangkan antara lain corak beras mawur, tapak kebo dan dapur ngebul, yang merupakan hasil karya para pengrajin batik Tegalan. 



Salah satunya juga diproduksi oleh sebagian masyarakat Kelurahan Bandung kecamatan tegal selatan kota tegal. Awal mula dikenal sebagai desa debong bandung,kemudian berganti nama dengan bandung kimpling dan kini menjadi kelurahan bandung. Perubahan nama tersebut juga menjadi symbol nama untuk pengrajin batik asal bandung. Sebagian dari masyarakatnya juga memproduksi batik home industry . Pengrajin home industry batik tersebut mempunyai paguyuban yang bernama Cempaka Mulya Tegal Selatan. Dari Kelurahan Bandung sendiri batik tersebut terkenal dengan nama Canting Emas pada tahun 2002 hingga sekarang. Mengenal lebih dekat profil  Home industry batik asal bandung Kecamatan tegal selatan tepatnya di RT 06/RW 02 terdiri dari 22 orang pembatik dengan ketua kelompok bernama Ibu Sumarsih. Produksi dari pembatik bandung bisa menghasilkan batik dengan 2 kriteria yaitu :
     >Model klasik yang dapat  menghasilkan 2 buah batik dalam sebulan biasa langsung                              dipasarkan untuk pemesanan dari Madura 
>   Model modern bisa dihasilkan 100 buah batik dalam sebulan biasa dipasarkan ke pasar lokal maupun kedinasan.
Usaha pengrajin batik bandung mendapatkan apresiasi dan binaan dari Bapeda dan Disperindag.  Dilakukan pelatihan  oleh seluruh pengrajin batik asal bandung.  Home industry batik dari bandung tersebut juga terus menghasilkan karyanya hingga sampai sekarang dikenal oleh masyarakat luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar